Harga BBM Bersubsidi Turun, Benarkah Pemerintah Masih Mensubsidi BBM?

Turunnya harga BBM untuk jenis solar menjadi Rp 7.250 dan premium menjadi Rp 7.600 menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan, ada yang menyambut dengan suka cita ada pula yang beranggapan ini hanyalah pencitraan semata. Sebagai seorang yang awam tentang ekonomi apalagi tentang harga BBM yang merasa penasaran bagaimana bisa harga BBM bisa naik-turun, karena itulah saya coba-coba menghitung kira-kira berapa harga dasar minyak (jenis premium) dan benarkah pemerintah masih mensubsidi BBM?

Sebagaimana sering diberitakan media bahwa harga minyak dunia terus mengalami penurunan bahkan pada saat harga BBM dinaikkan juga harga minyak dunia sedang mangalami penurunan. "Sekarang harga minyak dunia sedang turun. Harga minyak mentah US$ 55,45 per barel. Ini momen bagus untuk hilangkan premium. Karena rakyat dengan harga sama (selisih harga antara Ron 92 dan Ron 88 tidak besar) bisa dapat dapat bensin lebih baik," kata Faisal saat diskusi di Waroeng Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/12/2014)” (baca: http://finance.detik.com/read/2014/12/27/142215/2788022/1034/harga-minyak-dunia-turun-faisal-basri-momen-bagus-hilangkan-premium).

Nah sekarang mari kita bermain hitung-hitungan. Apakah anda tau 1 barrel itu berapa liter? 1 barrel = 158,9873 liter atau kita bulatkan jadi 159 liter (http://id.wikipedia.org/wiki/Barrel). Jika kita hitung dengan harga per barrel US$ 55,45 maka harga minyak per liter adalah US$ 0,349 atau senilai Rp 4362,5 (asumsi kurs Rp 12500), di tambah dengan ongkos lainnya bisa menjadi Rp 5.100 (biaya lain = 5100-4362,5 = Rp 737,5) (baca: http://finance.detik.com/read/2014/12/27/142215/2788022/1034/harga-minyak-dunia-turun-faisal-basri-momen-bagus-hilangkan-premium)

Namun saya ingin menghitung tidak dianggka terendah karena itu hanya harga sementara saja (bisa jadi naik/turun lagi) dimana pada hari ini tanggal 1 Januari 2015 harga minyak dunia masih berkisar US$ 55,91 (baca: http://bisnis.liputan6.com/read/2154982/harga-minyak-kembali-jatuh-setelah-as-membuka-keran-ekspor) jadi saya mencoba mengitung dengan besaran harga minyak dunia di angka US$ 60 per barrel. Jika dihitung harga per liternya menjadi US$ 0,377 atau setara Rp 4.720 per liter dengan kurs Rp 12500, ditambah dengan biaya lainnya sekitar 800/liter (seperti yang dikatakan faisal basri) maka harganya menjadi Rp 5.520 per liter. Itu jika kurs Rp 12.500, jika rupiah menguat maka harganya bisa lebih murah, minyak yang kita bahas ini pun adalah harga minyak dengan ron 92 (setara Pertamax). Baca : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/09/07/200700226/Faisal.Basri.Di.Dunia.itu.Tidak.Ada.BBM.RON.88

Lalu dimanakah SUBSIDINYA? Tahukah anda apa itu subsidi? Subsidi (juga disebut subvensi) adalah bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi. (baca: http://id.wikipedia.org/wiki/Subsidi)
Nah, jika harga dasar minyak hanya Rp 5520/liter (US$ 60/barrel) dan dijual kepada rakyat Rp 7.600 berapakah yang disubsidi BBM yang diberikan pemerintah kepada rakyat? Artinya negara masih untung Rp 2.080. Jika memang BBM masih disubsidi seharusnya harga BBM dibawah Rp 5520. Bukankah pemerintah akan melalukan evaluasi harga minyak tiap bulan? (Baca: http://bisnis.liputan6.com/read/2154740/evaluasi-tiap-bulan-biar-pertamina-tak-sesuka-hati-tetapkan-harga). Jadi menurut saya yang kita beli sekarang bukannlah BBM BERSUBSIDI.

Kesumpulannya Rakyatlah yang MENSUBSIDI Pemerintah!
Ini pendapat saya sebagai orang awan yang hanya melakukan perhitungan sederhana, untuk pendapat anda #BukanUrusanSaya

0 Response to "Harga BBM Bersubsidi Turun, Benarkah Pemerintah Masih Mensubsidi BBM?"

Post a Comment

PENTING!!!
1. Berkomentarlah dengan topik yang relevan dan tidak melakukan SPAM
2. Mohon untuk tidak memasukkan link aktif
3. Untuk memasukan gambar, gunakan tag <i rel="image">URL GAMBAR ANDA DISINI</i>
4. Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum dipublikasi.

NB: Sebelum memasukkan kode silahkan parse terlebih dahulu dengan menggunakan tool konversi kode.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel